Hati-hati dengan Earphone…

January 25th, 2009 by ged45

Menilik sejarah earphone tidak lepas bahwa fungsi awalnya sejatinya ditujukan untuk memberikan pilihan bagi mereka untuk menikmati hiburan tampa ingin mengganggu kenyamanan orang lain.

Pada umumnya earphone mampu mengeluarkan suara maksimum 120 dB untuk seluruh rentang frekuensi yaitu 16Hz-16KHz. Rata-rata orang memilih rentang 95-100 dB ketika mendengarkan musik. Pada dasarnya, pilihan-pilihan ukuran volume ini sangat tergantung oleh situasi sekitarnya. Seseorang akan cenderung manaikkan volumenya untuk menghindari suara-suara disekitarnya yang mengganggu. Dalam dunia akustik teknik ini disebut sebagai sound masking yaitu menurunkan tingkat dengar suara-suara yang tidak diinginkan dengan menghadirkan suara yang tidak mengganggu dengan intensitas yang lebih tinggi sehingga terjadi kenaikan ambang batas dengar untuk suara-suara tertentu. Hal ini tentu saja membantu meningkatkan konsentrasi seseorang dalam menikmati obyek hiburan yang menjadi perhatiannya tampa khawatir tergangguoleg suara-suara diluar obyek hiburan yang sedang dinikmati. Semakin jelek kualitas earphone yg kita gunakan dengan ciri memiliki seal yang kaku dengan desain enclosure yang berada di area daun telinga (pinna) umumnya orang akan semakin meninggikan volume suaranya untuk mengkompensasi ambient noise/background noise disekitarnya. Jadi jangan heran, kita bisa mendengar musik yang dikeluarkan oleh earphone dari penumpang yang duduk disebelah kita pada waktu naik angkot. Bisa dibayangkan berapa dBA kira-kira suara yang diterima oleh telinga orang tersebut. Masalah pengaturan volume ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan. Misalnya pemilihan rentang volume tinggi telah menjadi hal yang wajib bagi mereka yang masuk golongan Loud Music Dependency Disorder (LMDD).

Berdasarkan penelitian manusia akan aman mendengar pada tingkat 85 dBA dalam waktu maksimum 8 jam yang dikenal sebagai dosis suara yang dianjurkan. Tetapi ukuran ini hanyalan ukuran awal dan perlu menilisik lebih dalam mengenai kandungan frekuensi dari sebuah suara yang sedang didengar yang pada umumnya memiliki dominasi pada frekuensi-frekuensi tertentu. Pada prinsipanya manusia dianjurkan untuk menghindari suara-suara dengan tingkat intensitas yang tinggi pada frekuensi tinggi yaitu diatas 4000 Hz mengingat pada frekuensi-frekuensi tersebut bagian dari telinga kita yang disebut cohlea yang berisi rambut-rambut getar untuk menyampaikan informasi ke otak rentan akan kerusakan. Sebagai pembanding, frekuensi-frekuensi ini banyak muncul pada jenis-jenis musik dengan beat tinggi seperti musik rock yang didominasi permainan nada-nada pada frekuensi tinggi. Untuk membayangkan kira-kira berapa dB suara yang sedang kita dengar, sebagai pembanding misalnya suara orang berbicara normal adalah 60-70 dBA, suara flushing toilet 75-85 dBA, konser musik Rock 100-120 dBA. Dari berbagai survei menunjukkan makin meningkatnya jumlah remaja atau orang muda yang memiliki gangguan pendengaran akibat berlebihan didalam pengguaan earphone.

Pada akhirnya untuk melindungi telinga kita yang berharga perlu usaha dengan memilih minimal salah satu pendekatan yang tersedia. Pilihan pertama yaitu memilih teknologi yang concern dengan keamanan dan kesehatan telinga kita tentunya dengan mengeluarkan kocek yang lebih tinggi. Pilihan lainnya yaitu menggunakan earphone/portable music player kita dengan bijaksana yaitu kalau memang diperlukan dan ini membutuhkan kesadaran dan disiplin yang baik dari masing-masing kita. Apalagi saat ini para produsen telah banyak melaunching produk-produk speaker stereo sebagai aksesoris pelengkap sekaligus untuk memberikan alternatif mendengarkan musik tampa harus harus selalu menggunakan earphone. Maka memanfaatkannys tentu tidak ada salahnya demi menjaga kualitas hidup untuk masa depan yang lebih baik, minimal sambil menunggu teknologi-teknologi semacam itu sesuai dengan kocek kita tidak ada salahnya menggunakan gadged kita secara aman dan sehat sesuai anjuran para ahli.

(Diolah dari berbagai sumber)

Siapa Bisa Baca Tulisan Ini?

July 30th, 2008 by ged45

Siapa Bisa Baca Tulisan Ini?

Syaa
brau mnedaapt sbueah e-mial drai tmeen syaa. Kaatnya mnuruet hsial
sbuaeh pineltiaen di Cmabrigde Uinervtisy, tdiak mnjedai msalaah
bgiamnaa uturan hruuf-huurf dlaam subaeh ktaa, ynag pnitneg aladah
lteak hruuf partmea dan treahkir itu bnear. Ssianya dpaat brantaaken
smaa skelai dan Adna maish dpaat mebmacanya tnpaa msaalah. Hal ini
kerana oatk masunia tdaik mambeca seitap huurf msaing-msinag, tatepi
kaat kesuleruhan. Keern bkaun? Nmuan ynag jdai malasah adlaah…
ngiteknya jdai cpeak. Cpeak deh!

Akpaah Adna msiah bsia mmebcaa tliuasn di aats?

Asal Istilah “NARSIS”

July 25th, 2008 by ged45

Asal Istilah “NARSIS”

180pxmichelangelo_caravaggio_065

Narcissus melihat bayangannya sendiri di air

Satu lagi hal yang membuat aku “makhluk asing”
dari planet lain jadi penasaran. Dan lagi” masih dalam mitologi Yunani kuno.
Berbeda dengan kotak pandora yang menyimpan banyak masalah yang terus menyebar,
kali ini adalah istilah populer yang sering banget muncul di kalangan anak
muda, Narsis.

Seperti diketahui banyak orang narsis berarti
PD–percaya diri–yang berlebihan, atau istilah English-nya self-admirer. Gambar
diatas adalah gambar pemuda tampan yang pernah hidup menyandang nama Narcissus.
Saking tampannya, hingga dirinya memuji diri sendiri–terkadang kita perlu
memuji diri sendiri agar kita bisa lebih bersemangat dalam menghadapi hidup
yang serba susah ini tapi tentu aja jangan berlebihan, dan tidak sedikit para
gadis yang dibuatnya “gigit jari” kecewa karena cinta mereka ditolaknya
mentah-mentah”. Menurutnya rayuan para wanita itu tidak tulus dan mengandung
“racun dunia”–kayak lagu yang sedang digandrungi temanku, Moffy.

Hingga seorang dewi, Echo, juga jatuh hati
padanya. Tentu tak mudah menaklukkan hati Narcissus yang terpesona dengan
dirinya sendiri. Otomatis dia menolak cinta dari Echo. Echo yang patah hati
kemudian mengutuknya jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Tujuannya agar dia
tahu gimana rasanya patah hati, tapi mana Narcissus tau! Dia kan penolak
cewek!!

Hingga suatu saat dia merasa haus. Saat itu dia
sedang melewati sebuah sungai. Saat melongokkan kepalanya ke sungai dia melihat
bayangannya sendiri dan seketika itu juga dia merasa belum pernah melihat wajah
setampan itu–padahal itu wajahnya sendiri! Hasrat sebagai manusia yang memiliki
cinta mendorongnya untuk mendekatkan wajahnya ke bayangannya sendiri di air.
Dan saat itu juga dia merasakan apa yang dirasakan oleh Echo, bayangannya
menghilang begitu bibirnya menyentuh permukaan air. Mungkin sejak saat itu dia
tidak minum lagi karena takut “kehilangan” “cinta”-nya.

Kata narsis dicomot dari nama Narcissus–termasuk
kepribadiannya yang mencintai diri sendiri secara berlebihan. Tapi nggak semua
narsis itu jelek. Kadang kita memerlukannya di-saat” tertentu. Selama masih
batas normal that’s ok kok? Malahan ada yang narsis di depan orang” tertentu
saja